Kamis, 31 Januari 2019

Manusia Plastik



Kata ibu, orang-orang sudah berubah jadi manusia plastik. Aku takut keluar rumah, karena manusia plastik suka mencari mangsa. Manusia plastik biasanya berkeliaran menjelang senja. Sebab matahari siang bisa melelehkan tubuh mereka. Mereka biasanya berkeliling di komplek-komplek, duduk berdiam di tengah jalan raya, atau pura-pura menunggu kereta di stasiun pada jam ramai pulang kerja. Aku lebih baik mati kesepian di dalam rumah daripada harus bertemu manusia plastik. Tapi ibu sering memaksaku keluar untuk bergaul dengan manusia plastik, kata ibu biar aku terbiasa dengan kehadiran mereka.
            Pernah suatu hari karena aku pulang terlambat ke rumah, sebab hujan di sekolah tidak juga mau reda, sialnya, aku bertemu manusia plastik di jalan raya. Seluruh sendiku lemas, tiba-tiba kucuran keringat lancar mengalir, seluruh bajuku basah, pandanganku kunang-kunang, Oh Tuhan rasanya aku mau pingsan!. Sekuat tenaga aku tahan agar tidak tumbang, sebab aku tidak mau digotong manusia plastik sampai rumah. Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalananku, walau dengan langkah gontai dan berharap semoga manusia plastik tidak menegurku!.
         Aku dan manusia plastik sudah berhadapan, jarak kami hanya sekitar 5 jengkal. Bagiku ini adalah rekor tertinggi karena bisa tahan berdekatan dengan manusia plastik. Tiba-tiba kakiku terselandung batu, aku hampir jatuh berdebum di jalan aspal, jika saja tubuhku tidak ditopang dengan tangan manusia plastik, celaka, dia menyentuhku! Entah apa lagi yang bisa kupikirkan saat itu, selain berkhayal mengapa bumi tidak runtuh saja, agar aku tidak merasakan kulitnya menyentuh kulitku, matanya menatap mataku, bibirnya menggumam namaku. Aku kehilangan kesadaran.
            Saat bangun, aku sudah di kasur rumah, dengan tatapan mata ibu yang bingung dan khawatir dengan keadaanku.
“Ibu, apa aku sudah berubah menjadi manusia plastik?” tanyaku cemas.
“Belum Nak, kamu istirahat dulu, syok dan takut berlebih membuat kamu tak  sadarkan diri tadi.” ucap ibu meyakinkanku. Kata-kata ibu belum membuatku tenang, langsung kusambar cermin kecil, dan menjelajah setiap lekuk wajah. Dari kening sampai dagu kususuri perlahan, ternyata aman, aku menghela nafas lega.
       Tiba-tiba ada suara ketukan pintu, membuyarkan lamunanku dari manusia plastik, dan dari pengalaman buruk yang selalu menghantui. Terlihat seraut wajah menyembul dari balik pintu yang tak terkunci. Tetapi, tunggu dulu, aku mengucek mata sekali lagi, lagi dan berulangkali, sampai mataku merah dan berair. Hampir saja aku lupa cara bernafas, tercengang menahan cemas, ibu sudah berubah jadi manusia plastik!. Perlahan tapi pasti, ibu yang seluruh wajah dan tubuhnya licin plastik, mendekatiku yang kikuk dan mati gaya di hadapan jendela. Langkah kakinya menghasilkan suara tak-tok-tak-tok, seperti botol minum plastik yang dijalankan dengan berjingkat-jingkat di atas lantai keramik.
“Ibu..ibu..kenapa ibu berubah jadi manusia plastik? Aku mengucap terbata-bata.
“Kllsstt...kllssttt...kllsstt...kllsstt” yang keluar dari mulut ibu hanya bunyi “keset-keset” ngilu yang membuat bulu kuduk merinding tak tahan.
“Ibu...ibu...jangan mendekat, sana bu, menjauh!” aku melemparkan apapun yang dapat kujangkau ke muka ibu. Sial sekarang aku sudah sah jadi anak manusia plastik!.



#katahatiproduction
#katahatichallenge
#fiksimini

Selasa, 29 Januari 2019

Resensi Buku Ibu Susu Karya Rio Johan



        Resensi buku Ibu Susu karya Rio Johan ini menjadi yang pertama kali saya kerjakan karena akhirnya sadar dan mengerti bahwa setiap buku yang telah saya baca perlu mendapat ulasan (sesuai kadar kemampuan) saya agar selalu membekas di ingatan, menjadi pengalaman dan pengetahuan untuk ke depannya. Novel pertama di 2019 yang berhasil saya lahap tuntas selama kurang lebih 2 hari. Buku ini meraih penghargaan KSK (Kusala Sastra Khatulistiwa) pada tahun 2018 kemarin untuk kategori karya pertama dan kedua yang didedikasikan kepada penulis pemula. Sungguh pencapaian luar biasa mengingat buku ini ditulis oleh seorang lelaki kelahiran tahun 1990, sebab masih terbilang muda dan belia.
      Kisah dalam buku ini dimulai dari penjabaran tentang Firaun Theb yang bermimpi hujan susu, susu-susu itu meruah dan meluap-luap di sungai. Segenap lembah, gurun-gurun, perbukitan banjir oleh susu. Sampai pada puncaknya badai yang menggelung pun menguarkan susu, alih-alih pasir. Lantas setelah mimpi itu, datanglah mala petaka pada putranya, Sem. Sem ditemukan sudah kaku dengan badan yang lemah tetapi masih bernafas kecil. Tidak ada rintihan, tangisan, atau gerakan merengek darinya. Alhasil Sem serupa mayat hidup yang tidak mati tapi juga tidak seperti bayi normal sebagaimana biasanya.
       Singkat cerita setelah Firaun Theb mendapat petanda lagi dari mimpinya, yakni ia dituntun untuk menemukan ibu susu yang bukan sembarangan, ibu susu istimewa dan satu-satunya yang bisa menyembuhkan Sem dari sakitnya tersebut. Ibu susu yang memiliki kantung susu mujarab serupa obat berkhasiat. Tentu pencarian ini pula juga tidak mudah, sebab Firaun Theb dan para wazirnya harus menghitung dan mencocokan bintang-bintang, waktu, keadaan gurun, dan perempuan yang lahir bertepatan dengan bintang di hari dia bermimpi, sedangkan dalam ratusan tahun, bintang tersebut hanya muncul 37 kali saja.
      Akhirnya ditemukan lah perempuan yang sangat cocok dan diyakini sebagai ibu susu ajaib, bernama Iksa. Ternyata hal ini juga tak mudah, mendapati kenyataan bahwa sekujur tubuh perempuan Iksa penuh dengan koreng-kemoreng yang berbau busuk dan menjijikan, tetapi anehnya dua kantung susu yang menggantung di dadanya itu bersih, ranum, khalis, segar sempurna dan tanpa cela. Hal yang sangat bertentangan sekali mengingat seluruh tubuhnya bagai padang koreng yang selalu basah dan enggan mengering juga.
        Hal lain yang bertambah pelik adalah saat perempuan Iksa memberikan “syarat” sebagai tebusan dan “bayaran” atas pengabdian kantung susunya untuk pangeran Sem. Perempuan Iksa menuntut 3 permintaan yang harus dikabulkan Firaun Theb. Yang pertama perempuan Iksa meminta sejumlah besar bahan pangan (gandum, jagung, roti, minyak, kurma, bawang dsb), sejumlah besar daging-dagingan (sapi, unta, domba dll), sejumlah besar batu-batuan (lazuardi, emas, perak, tembaga dsb) dan kesemuaan barang-barang itu harus dibagikan kepada para budak korban peperangan sepanjang delta sampai ke tanah-tanah taklukan.
      Yang kedua, sebagaimana perempuan yang mempunyai kantung susu bagus dan sehat adalah perempuan yang sedang hamil atau baru melahirkan, maka perempuan Iksa yang tidak sedang dan belum pernah hamil itu ingin jika bayi yang akan dikandungnya adalah hasil dari hubungannya langsung bersama Firaun Theb.
       Yang ketiga, permintaannya yang sangat krusial dan kelak nanti menjadi boomerang sendiri bagi perempuan Iksa, adalah ia minta agar puteranya kelak menjadi teman, sahabat, rekan, saudara pangerang Sem. Tetapi di sini perempuan Iksa berkali-kali menegaskan bahwa maksudnya ini bukan karena ingin mengincar kedudukan, kehormatan ataupun kemulian. Perempuan Iksa murni melakukannya agar anaknya kelak bisa hidup cukup dan tidak menderita seperti ibunya.
      Maka hari yang ditentukan datang, perempuan Iksa akan menyusui Pangeran Sem. Memang benar air susu dari kantung susu perempuan Iksa lah yang satu-satunya mampu menyembuhkan Sem. Tetapi susunya ternyata sudah kering hanya dalam waktu 3 hari saja, dan pangeran Sem juga telah pulih dan bugar. Sampai di sini, beberapa kali Firaun Theb mendapat mimpi tentang susu, tetapi mimpinya yang terakhir tidak bisa dikatakan mimpi yang bagus, karena cenderung mimpinya ini ditafsirkan justru akan melahirkan petaka dan sengsara bagi kedaulatanya.
      Akhirnya perempuan Iksa didakwa akan mengancam kekusasaan Firaun Theb sebab permintaanya yang terakhir sangat menjurus pada hal itu. Perempuan Iksa dihukum ditenggelamkan disungai dengan batu besar yang diikatkan pada tubuhnya. Begitulah tragis kematian perempuan Iksa. Di akhir cerita, dikisahkan bahwa Firaun Theb akhirnya meinggal karena keadaan sakit yang sama seperti yang diderita pangeran Sem dulu. Tamat.
        Kisah ini bagi saya sangat menarik dan hampir tidak bisa lama-lama berjauhan dengan buku ini. Walau tidak tebal, hanya sekitar 200 halaman, tetapi alur cerita yang runtut dan beberapa kosakata aneh dan jarang dipakai seperti lentil, jumantara, sempena, cangkriman, disuguhkan disetiap kalimat dan tidak terkesan dipaksa-paksakan menempel pada cerita. Dan jujur saja ini menjadi karya pertama Rio Johan yang saya baca, dan saya sangat jatuh cinta pada karyanya ini.
       Detail kehidupan pada masa Mesir kuno juga sangat terasa, kental dan kaya sekali, seperti ritual, makanan,  dewa-dewi, budaya, kebiasaan, dll. Saya sangat menikmati setiap torehan kata-kata yang Rio Johan tuturkan, dan tidak bisa tidak percaya bahwa novel ini nyatanya hanya fiksi sejarah semata. Novel ini sukses membawa saya pada masa Mesir kuno yang sakral dan agung pada zamannya. Narasi-narasi panjang juga sering menghiasi setiap lembar cerita ini. Beberapa kali juga saya tergelak dan senyum-senyum sendiri pada beberapa penuturan Rio Johan yang menghibur selera humor saya.
    Novel ibu susu ini ditulis penulisnya pada saat mengikuti residensi di Berlin, dan dari pengakuannya kita ketahui bahwa riset yang digunakannya tidak sembarangan, sebab butuh berkali-kali bagi penulis mengunjungi museum dan perpustakaan untuk melengkapi kekayaan isi dalam novel ini.

Depok, 13 Januari 2019

Senin, 28 Januari 2019

Tentang Seseorang yang Tidak Ingin Menikah


    Beberapa waktu yang lalu saya menonton bincang santai di Youtube channel milik seseorang (tidak saya sebut namanya), dan yang menjadi bintang tamu saat itu adalah seorang penulis muda laki-laki, berbakat dan berprestasi, yang saya suka dan kagumi (tidak saya sebut namanya juga). Perbincangan itu sangat santai sebenarnya, dalam durasi kurang lebih satu jam. Berisi obrolan sederhana tetapi berbobot, menginspirasi dan banyak pelajaran yang bisa diambil.

   Banyak hal yang dibahas dalam bincang santai itu, dimulai dari kehidupan pribadi si Penulis, tentang minat dan konsennya pada Feminisme, Patriarki, Ekologi, dan Maskulinitas. Tetapi, salah satu stigma yang sangat menarik perhatian saya dari Penulis ini adalah dia lebih memilih lajang dan tidak punya niat untuk menikah. Pandangan ini menurut saya sangat unpopular di lingkungan masyarakat kita. Sebab selama ini sangat jarang sekali orang yang tidak punya niatan untuk menikah, justru yang banyak sekarang adalah orang-orang yang resah dan gundah menanti jodohnya. Bahkan mendamba-dambakan pernikahan yang datang segera.

     Tentunya dia memiliki alasan tersendiri mengapa memilih jalan untuk tetap melajang di usianya yang sudah memasuki kepala tiga. Tetapi bukan karena terdapat penyakit (fisik/batin) yang membuat ia enggan menikah. Hanya saja menikah dan punya anak baginya “bukan saya banget”, begitu tuturnya. Pikiran aneh dan negatif masyarakat terhadapnya disambut dengan biasa dan tidak terlalu dia ambil pusing. Di antara orang-orang yang mempertentangkan keputusannya itu juga sampai membawa-bawa Hadist Nabi yang berbunyi “siapa yang tidak menikah, tidak akan dianggap salah satu umatku.” Untuk pertanyaan ini dia mempunyai jawabannya sendiri, dia menyebut bahwa terdapat pula beberapa ulama yang tidak (sempat) menikah seperti Rabiah Al-Adwiyah, Imam At-thabari, Imam An-nawawi, Ibnu Taimiyah dll. Apakah para ulama tersebut dikatakan tidak termasuk umat Nabi? Tentunya ada kesalahpahaman masyarakat yang berkembang di sini.

      Saya rasa setiap orang memang harus memiliki prinsip dalam hidupnya, seperti dia misalnya yang tidak suka terkekang dan terikat dalam suatu hubungan, hingga mempunyai prinsip tidak ingin menikah, dan beberapa alasan lainnya yang menjadi hak penuh si Penulis itu.

      Selanjutnya, yang membuat dia berpikir untuk tidak ingin menikah dan punya anak adalah bahwa dia tidak ingin menambah populasi manusia yang semakin berkembang melesat, sehingga dengan kehadiran “anak baru”, begitu dia menyebut, akan menambah jumlah manusia yang hidup dan otomatis semakin mempengaruhi Ekologi lingkungan yang tidak seimbang dan stabil. Makin bertambah kuantitas manusia, makin melebar jumlah kebutuhannya dan tentu akan menyebabkan kejomplangan dalam perkembangan lingkungan dan pertumbuhannya yang tidak signifikan. Pikiran panjangnya ini membuat pembawa acara tersebut terkekeh dan menganggap bahwa pendapat si Penulis itu sangat “tidak biasa” dalam memandang hidup ini.

     Si Penulis yang tidak berkeinginan untuk menikah ini, bagi saya adalah sikap yang sangat jarang sekali ditemui dalam lingkup masyarakat luas, khusunya Indonesia. Kita terlalu erat dengan tradisi dan budaya, sehingga tidak mudah untuk berani tampil beda di tengah kentalnya iklim kebiasaan orang Indonesia, yang memandang bahwa pernikahan adalah suatu hal yang wajib dan mesti dijalankan semua orang. Sebuah fase kehidupan yang kadangkala menjadi momok dan aib saat ada yang melewatkan masanya. Kita tentu tidak asing dengan sebutan “perawan tua” atau “bujang lapuk”, ketika ada seseorang yang belum juga mengakhiri masa lajangnya untuk menikah. Bagi mereka penyandang “perawan tua” dan “bujang lapuk” lambat laun akan mengalami depresi dan menimbulkan penyakit mental dan keterkucilan.

   Padahal Indonesia sebagai Negara merdeka, harus dibarengi dengan kesadaran pula bahwa setiap individu punya kemerdekaannya sendiri, yakni dengan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya, selama tidak merugikan dan menimbulkan keburukan bagi orang lain.

#katahatichallenge 
#katahatiproduction 
#Tema-UnpopularOpinian


Minggu, 27 Januari 2019

SEBUAH PERTANYAAN

Seseorang ditanya apa arti rumah
Dia menjawab tanpa berkata
bibirnya menggumam satu nama
kedip mata simpul seribu makna
pada kelopak jari-jari purba
ia menghitung yang tak berangka

Kau mengerti dari getar pandangnya
mencermin kaca-kaca air mata
dari dalam suatu yang tak punya batas
tempat ia sembunyikan rahasia batin
ruang ia simpan seluruh luka sampai kering

Kerlip matanya masih berucap
suara-suara dari lengkung haru langit biru
gaduh dan tak dapat disentuh
tiba-tiba ia sudah di muka pintu
tak ada jendela atau kata selamat datang
di tengkuknya ada yang berbisik
“Masuklah, kau rindu pulang”

Dibayangkannya sepasang burung berkicau
pagi meranum, jendela yang minta disingkap,
sofa nyaman di sudut ruang, dan kenangan
atau apapun yang biasa kau sebut  jalan kembali

Dia yang ditanya apa arti rumah
pipinya memerah serupa kuncup bunga
rekah meruah di taman pengasingan
jari-jarinya yang purba berganti menghitung waktu
menjejak angka-angka fana 
dan segala kemungkinan-kemungkinan

Depok, 28 Januari 2018

 #katahatiproduction #katahatichallenge


Kamis, 24 Januari 2019

Hatiku Kapas Putih - Interpretasi Tembang Kenangan dari lagu Jangan Pernah Berubah (Marcell)



Oh, cintaku kumau tetap kamu
Yang jadi kekasihku
Jangan pernah berubah
Selamanya kan kujaga dirimu
Seperti kapas putih di hatiku
Takkan kubuat noda

  Setiap kenangan punya caranya sendiri untuk kembali diputar dan diingat dalam pikiran. Kadangkala lewat suasana, tempat tertentu, wewangian, atau lagu yang pernah terjadi dan berlangsung pada saat itu. Kenangan indah dan tak terlupa, selalu saja membuat hati rindu dan berkhayal andai waktu bisa diulang dan kembali ke masa lalu. Ingatan itu akan berlayar, mengembara, mencari sesosok tubuh yang dulu pernah sangat dekat dan lekat selalu.

   Lewat lantun nada dan baris lirik “Jangan Pernah Berubah” dari Marcell, seketika membuatku memasuki sebuah ruang masa lalu, di mana hanya ada dia dan segala kenangan indah bersamanya. Sekumpulan kisah yang pernah terjalin, baik yang bahagia maupun nelangsa. Awal pertemuan yang tidak terduga, sampai perpisahan pahit yang harus ditelan bersama.

   Kurang lebih tiga menit lagu itu berputar, tetapi dampaknya di pikiranku akan selalu membekas sampai kurang lebih tiga hari, atau mungkin lebih. kenangan itu takkan bosan mampir, takkan lelah menghanyutkanku ke dalam lautan memori panjang. Seperti seseorang yang menggedor pintu ketenangan, terkadang kenangan bisa sangat memaksa, hingga sangat menjengkelkan dan sulit diabaikan. Baiklah, sepertinya sampai di sini nostalgianya hehe, akan aku akhiri cerita ini dengan bait-bait sajak  “Hatiku Kapas Putih”.

Hatiku Kapas Putih

Hatiku kapas putih
kau noda-noda yang siap mengotori
setiap jejaknya kurintih “jangan berhenti”
sedang kau bosan menerima yang tak pasti
lalu kau mulai bersekutu dengan waktu
membiarkanku sendiri berkalut-kalut
kau mengerak dalam bentang jarak
aku menghitung helai-helai duka berserak

pernah kau tiup seluruh nelangsaku   
yang tersisa dari air mata itu secercah senyum
kau ajarkan bagaimana menghitung bintang
menengadahkan punggung tangan pada hujan
dan juga kesunyian panjang dari perpisahan

aku kapas putihmu
diam-diam mengambil noda
dan memaksamu kembali menjejakinya.


 #katahatiproduction #katahatichallenge

Marcell- Jangan Pernah Berubah

Rabu, 23 Januari 2019

Potret Budaya Ibu-ibu Perkotaan


   
      Sejak lahir saya tinggal di daerah perkotaan. Dari  bayi sampai Taman Kanak-kanak  saya habiskan di Jakarta, lalu setelah itu hijrah ke Depok dan bermukim di sini sampai usiaku yang ke-22 tahun. Dua puluh dua tahun hidup di ibu kota, membuat saya tidak mengenal asal dan kampung orangtuaku. Ayah yang asli orang Sunda yakni daerah Tasikmalaya, tidak sama sekali mewariskan budaya Sunda-nya baik dari bahasa, kebiasaan, ataupun pergaulan. Sebenarya agak malu juga jika aku sebagai orang Sunda (karena mengikuti keturunan ayah) harus merasa asing dengan asal sendiri.
     Budaya perkotaan jelas dan tentu berbeda sekali dengan di kampung saya Tasikmalaya, yang selalu saya kunjungi hanya satu kali dalam satu tahun yakni hanya saat Lebaran saja. Mayoritas orang kota atau yang tinggal di perkotaan, akan merasa bingung jika ditanya apa budaya mereka?. Barangkali ini disebabkan oleh sempitnya penafsiran mereka tentang budaya, yang hanya dianggap sebagai bentuk kebiasaan masyarakat tradisional, sehingga orang kota tidak mungkin mau dikatakan orang yang tradisional, alias sangat bertentangan dengan modernisasi yang sedang digembar-gemborkan.
     Krisis budaya bagi masyarakat perkotaan semakin hari semakin meresahkan dan menjadi hal yang wajib kita kaji kembali. Sebab adanya kerancuan, persilangan dan perkawinan banyak budaya, termasuk budaya barat. Krisis identitas dan lemahnya pengetahuan tentang budaya masyarakat perkotaan ini yang menjadi ketertarikan saya membahas lebih lanjut dan mendalam. Karena budaya juga tidak sekedar adat-istiadat, yang umumnya menjadi “nyawa” bagi masyarakat pedesaan. Padahal kalau ingin ditelisik makna sederhana budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.[1]
  Sejak lama hidup di lingkungan perumahan, hampir-hampir saya kesulitan untuk menentukan apa budaya yang berkembang di daerah ini. Masyarakat di lingkungan ini, sebagai mana juga kebanyakan terjadi di lingkungan perumahan lainnya, adalah masyarakat yang jarang berbaur dengan tetangga. Entah karena setiap rumah dipisahkan tembok dan pagar, menjadikan kehidupan bertetangga tidak begitu kentara. Melakukan komunikasi dan interaksi hanya sekadar dan jika ada perlunya saja. Tentu semua itu kembali pada diri dan pribadi masing-masing. Orang yang berkepribadian luwes dan gampang bergaul, tentu akan mendobrak kebiasaan saling tak acuh dalam bertetangga. Tetapi bagi mereka yang hidupnya mengalir dan mengikuti arus saja, akan nyaman dengan budaya yang minimalis ini.
    Tetapi terlepas dari itu semua, ada satu budaya masyarakat perkotaan yang menarik minat saya untuk membahasnya, yakni maraknya perkumpulan (geng) ibu-ibu “sosialita”. Sebenarnya terlalu berlebihan kalau saya menyebut kata “sosialita”, karena kata sosialita sendiri memiliki makna yang luas dan beragam, di antaranya adalah seseorang yang menghabiskan waktunya untuk acara sosial, menghibur atau mendapat hiburan, atau ada juga yang menafsirkan sebagai sekelompok orang yang gemar memakai barang-barang mewah dan bergaya hidup glamour. Masyarakat “sosialita” mayoritas bertempat tinggal di daerah perkotaan.
       Ibu-ibu ini senang membentuk grup atau geng. Biasanya dilandasi dengan acara arisan yang diklaim sebagai ajang silaturahmi dan berguna menjadikan jalinan pertemanan semakin hangat dan lekat. Ada juga yang membentuk geng ibu-ibu sekolahan, yakni kumpulan ibu-ibu yang saban hari antar-jemput anak di sekolah. Karena intensitas pertemuan mereka lebih sering dan mudah, hingga dengan cepatnya terbentuk geng ibu-ibu sekolahan. Yang seringkali terlihat, walau sudah ibu-ibu, tetapi gaya, tingkah laku, dan pergaulan mereka sudah seperti anak muda saja. Tentunya hal ini berbeda jauh dengan atmosfer kehidupan ibu-ibu yang tinggal di daerah pedesaan, yang tidak neko-neko dalam bergaul dan bergaya hidup. Saya rasa trend geng ibu-ibu ini menjadi salah satu budaya masyarakat perkotaan yang dituntut untuk hidup bersosial tetapi tidak menghilangkan unsur kemodernan.
    Menjamurnya geng ibu-ibu ini dirasa masih di ambang wajar, mana kala tidak sampai membuat kehidupan pribadi mereka dalam berumah tangga tidak menjadi korban. Seperti karena sibuknya berkumpul dengan teman-teman, sehingga meninggalkan banyak kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri. Atau menggunakan uang belanja untuk bayar arisan. Mencampur adukkan kebutuhan dan keinginan, sampai tidak bisa membedakan mana yang perlu diprioritaskan dan mana yang hanya sebatas untuk kesenangan. Ibu-ibu "sosialita" seharusnya juga mampu menjadi ibu-ibu yang cerdas hati dan pikiran. Mampu me-manage kegiatan dari bangun di pagi hari, sampai malam menjelang tidur. 
       Tidak ada yang salah dengan perkumpulan (geng) ibu-ibu, bahkan ini menjadi nilai positif yang dapat terus dilestarikan dan dijaga tatkala mampu menyikapinya dengan tepat dan sesuai kebutuhan dan keperluan. Tidak berlebihan, hingga menempatkannya di bagian paling prioritas dalam hidup dan melupakan kewajiban tugas mulia seorang ibu. 

#katahatiproduction #katahatichallenge




[1] Sumber Wikipedia.


Senin, 21 Januari 2019

The Journey Begins Here



      Akhir tahun 2017, tepatnya di bulan Desember, menjadi awal mula diriku mengenal dunia sastra. Lewat Komunitas Rumah Membaca Indonesia, yakni komunitas online belajar tulis-menulis yang di ketuai oleh A’yat Khalili, seorang penulis asal Sumenep, Madura. Bukan hanya ilmu dan pengetahuan tentang dunia kesustraan saja yang kudapat dari komunitas ini, tetapi juga teman-teman baru dari berbagai daerah senusantara. Alhasil tahun 2018 kemarin menjadi awal petualanganku menjelajah dunia sastra. Sebenarnya sudah sejak masa sekolah (Aliyah) aku menyukai sastra. Setiap pelajaran Bahasa Indonesia, aku selalu antusias dan tertarik dengan isi buku pelajaran itu, sebab pasti di setiap buku Bahasa Indonesia akan ada contoh cerita dan puisi yang dimuat untuk dipelajari.
        Yang sering aku temukan adalah puisinya Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono. Walau aku sebenarnya tidak mengerti apa makna dan maksud sajak itu, tetapi aku menyukai setiap kata yang indah, unik, dan puitik sekali. Di samping itu sejak dulu aku memang suka menulis diary, maka telah kutanamkan cita-cita semenjak di bangku sekolah, “aku ingin jadi seorang penulis!”. Tahun 2018 ini lah menjadi tahun pertama aku mulai menggeluti dengan serius dan sungguh-sungguh ranah kesusastraan yang luas dan dalam. Beberapa lomba dan antologi puisi aku ikuti sebagai bekal pengalaman dan melatih konsistensiku dalam menulis. Sayangnya, perjuangan ini ternyata tidak selamanya mudah dan lancar kulewati.
         Aku harus banyak menelan kekecewaan, lantaran seringnya kekalahan dan ke-tidakberuntungan memihak padaku. Tetapi itu semua tak memadamkan dan mematahkan mimpi. Akhirnya aku berhasil lolos pada satu event sastra yakni Festival Seni Multatuli. Festival Seni Multatuli mengundang para penulis Indonesia untuk bergabung dalam buku antologi puisi bertema “Multatuli”. Yang menjadi kurator saat itu adalah Toto ST. Radik dan Firman Venayaksa. Tercatat 283 sebagai peserta dan yang lolos 142 peserta saja. Begitu juga dari 920 judul puisi, yang menjadi pilihan juri hanya 203 puisi, dan aku termasuk di dalamnya.  


Saat acara peluncuran buku “Kepada Toen Dekker”,
Rangkasbitung 9 September 2018

    Pengalaman ini yang menurutku paling berkesan di tahun 2018. Tentu juga yang paling dan membanggakan bagi penulis pemula sepertiku. Jelas hal ini belum menjadikan diriku puas, tetapi sangat ampuh untuk melecut semangat dan motivasiku untuk menjadi lebih kreatif dan produktif lagi ke depannya. Ada satu kalimat dari Seno Gumira Ajidarma yang sangat membekas dan selalu menjadi pelecut semangatku dalam menulis, kira-kira begini kata-katanya:

"Boleh bisa apa saja, termasuk menulis.
Boleh tidak bisa apa saja, kecuali menulis."


#katahatiproduction #katahatichallenge